7 September 2013


Tertinggal.

Mungkin memang itulah yang saat ini tengah dihadapi.

Turut bahagia saat mendengar kabar gembira menghinggapi saudara kita yang lain, itu sebuah keharusan. Turut mendo’akan atas terlewatinya satu tahapan menuju kesuksesan yang tidak semua orang mendapatkan, juga kewajaran dalam sebuah ikatan persaudaraan.

Di saat yang sama ada sebersit rasa tertahan. Terkenang sekilas perjalanan beserta tantangan. Begitulah kehidupan. Tak selamanya senantiasa di depan. Bahkan seringkali memposisikan diri menjadi yang paling belakang. Namun, meskipun demikian, tak boleh hinggap sedikitpun rasa penyesalan. Karena sampai detik ini hidup pun masih berjalan. Dan akan senantiasa terus berjalan.

Semua dedikasi hanya untuk-Nya. Motivasi terbesar tentu menggapai ridho-Nya. Takut dan harap hanya kepada-Nya. Alloh SWT sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Dan hanya kepada Alloh SWT segala urusan dikembalikan.

by: ails

Iklan

Kisah Negeri Antah Berantah


Kisah Negeri Antah Berantah

Ada sebuah kisah
Kisah Negeri Antah Berantah
Tanahnya penuh hamparan sawah
Juga gunung-gunung yang berkawah
Disana mengalir sungai-sungai nan indah
Ibu kotanya dipenuhi gedung-gedung mewah

Negeri Antah Berantah
Negeri yang penuh para bedebah
Kemerdekaan yang penuh berkah
Hasil perjuangan dengan tumpah darah
Semua itu tinggal sejarah
Kemerdekaan hanyalah sebatas istilah
Sejatinya mereka tetap dijajah

Orang-orang pinggiran hidupnya susah
Mereka tak lagi mempunyai rumah
Hidup tanpa memiliki tanah
Tergusur, lapar dan tak lagi bergairah
Menunggu ajal menjemput dengan pasrah

Pemuda tawuran saling menumpahkan darah
Hanya karena sedikit masalah
Mereka tak mampu menyembunyikan amarah
Tak ada yang mau mengaku kalah
Tak ada yang ingin disebut sebagai si lemah

Koruptor terus mencari-cari celah
Mereka semua tak pernah lelah
Dengan tampilan yang luarbiasa mewah
Tak lupa pula memakai dasi dan baju berkerah
Sibuk mencari kesempatan untuk menjarah

Anak-anak kecil tak bersekolah
Berlari-lari dijalanan mencari sedekah
Untuk mendapatkan setidaknya semangkuk kuah
Karena biaya hidup tak lagi murah

Ah, sudahlah
Negeri ini memang Negeri Antah Berantah
Negeri yang penuh dengan masalah
Para pemimpin tak lagi amanah
Masyarakatpun ikut terbelah
Bencana alam dimana-mana semakin menambah parah

Wahai para pewaris negeri antah berantah
Janganlah kehilangan langkah
Ataupun jua kehilangan arah
Meski dengan keringat dan darah
Bangkitlah!
Harapan itu masih ada di negeri antah berantah

-ail-

2 September 2013


Mencoba memulai sesuatu yang baru memang tidak mudah. Apalagi merubah kebiasaan-kebiasaan buruk yang sudah melekat. Tentu sangatlah sulit. Tapi, jika itu memang sesuatu yang harus dilakukan -entah bagaimanapun caranya-, kita pasti akan menemukan jalannya.

Satu hal yang harus diperhatikan dan menjadi pembelajaran tadi, adalah: jangan mudah percaya pada orang lain. Ada seseorang yang mengatakan, kepercayaan yang kuat dimulai dari sebuah kecurigaan. Bisa jadi ada benarnya. Tapi bisa juga salah. Yang pasti harus semakin hati-hati.

Akhir-akhir ini menemukan satu subjek, yang semakin lama semakin membingungkan. Semakin aku teliti, memang semakin mudah aku menebak arah dan geraknya. Tapi, tetap tak mampu membaca apa yang sebenarnya ada dibaliknya, tak mampu membaca sesuatu yang memang sangat tersembunyi. Memang setiap orang mempunyai labirin rahasianya masing-masing.

Berharap esok lebih baik. Tak ada kata terlambat. Begitu katanya. Meskipun terasa hambar. Tapi thank’s.